Sabtu, 05 Oktober 2013

Suara Rakyat

SUARA RAKYAT


Indonesia adalah negara kepulauan yang sangat kaya dengan sumber daya alam. Negara ini sebenarnya adalah negeri yang sangat kaya. Tapi entah apa yang terjadi negara ini masih tergolong negara berkembang. Pemerintah saat ini mengklaim bahwa tingkat pertumbuhan Indonesia semakin naik, tapi kenyataanya tidak seperti itu.

Banyak daerah-daerah di Indonesia yang masih tergolong tidak mampu bahkan miskin. Di mana kah tingkat kemajuan ekonomi itu? Beberapa bulan yang lalu para pengusaha tempe dipusingkan dengan kedelai yang langka,sehingga harga kedelai melonjak. Banyak pedagang, pengusaha tempe yang mengeluh dan melakukan protes. Entah apa yang terjadi dengan pemerintah saat ini, sehingga muncullah sindiran seperti ini "Piye Kabare? Enak Jamanku to". Penulis tidak sedang bicara secara ilmiah, tapi berbicara bagaimana perannya sebagai seorang rakyat biasa. Tidak ada statistik atau data yang tercantum ditulisan ini, tapi hanya kenyataan yang menjadi inspirasi tulisan ini. Rakyat tidak butuh angka statistik dari pemerintah yang menunjukan bahwa pemerintah telah melakukan, meningkatkan banyak hal. Rakyat tidak butuh angka-angka itu. Rakyat cuma ingin merasakan apa yang pemerintah sudah katakan.

Rasa cinta rakyat Indonesia terhadap bangsa memang tidak akan pernah luntur, tapi kepercayaan rakyat terhadap pemerintah, entahlah... Penulis tidak tahu bagaimana kehidupan Indonesia pada masa lampau, karena memang belum lahir. Penulis cuma mendengar cerita sejarah yang diceritakan guru sejarah disekolah. Bangsa  Indonesia dulu dikenal sebagai bangsa yang besar dan disegani oleh negara-negara lain. Ternyata memang benar, bangsa kita adalah bangsa yang besar, karena memang luas wilayahnya saja, tapi secara ekonomi, sosial, pendidikan bangsa ini masih tergolong kecil. Kemiskinan dan pendidikan di negara ini sangat memprihatinkan. Tidak sedikit daerah yang masih tertinggal secara ekonomi dan pendidikan.Penulis tidak akan menulis secara detail terkait ekonomi maupun pendidikan, karena bukan ahli ekonomi dan pendidikan. Penulis memposisikan diri sebagai seorang rakyat yang tidak tahu apa itu, ekonomi, politik, dsb. Penulis mencoba meresapi apa yang dirasakan oleh rakyat yang tidak pernah mengerti apa itu ekonomi, politik dan sebagainya. Sebagai rakyat, kebanyakan dari kita memikirkan bagaimana caranya agar besok, minggu depan, bulan depan, atau tahun berikutnya. Bukan bermaksud tidak peduli dengan perkembangan bangsa, tapi bukankah perkembangan itu dimulai dari hal yang kecil dulu baru kemudian menjadi besar. Bukankah kalau kita membuat rumah yang dibuat pertama adalah pondasinya dulu, baru dinding, atap dan seterusnya.

Bersambung...


Tidak ada komentar:

Posting Komentar